Mon, 05/27/2019 - 02:49

MEMAKNAI PESAN BERKEARIFAN LOKAL DALAM P EMBELAJARAN PAUD

Media Sulawesi | Thu, 04/25/2019 - 20:06
Foto : Salehuddin, S.P,M.Si
PENDIDIKAN Anak Usia Dini (PAUD) akhir-akhir ini semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia, hal ini terindikasi  dengan pesatnya kuantitas satuan PAUD di berbagai pelosok negeri,  demikian pula dengan makin tumbuhnya pemahaman masyarakat kita akan PAUD.    jika kita berkunjung ke pedesaan, tempat terpencil, atau daerah pulau, dan pedalaman, maka sebagian besar masyarakat telah mengetahui apa itu Taman Kanak-Kanak , apa itu Kelompok Bermain, apa itu SPS,  apa itu TPA, TPQ, Raudhatul Athfal (RA), sekolah minggu, pasraman, dan lainnya  yang notabene semuanya itu masuk dalam ruang lingkup / rumpun PAUD.  Dengan semakin adanya pemahaman terhadap PAUD oleh masyarakat, maka secara langsung eksistensi PAUD makin kokoh.  Wajarlah jika PAUD harus tumbuh dan berkembang secara dinamis di tengah masyarakat, karena bagaimanapun, jenis pendidikan ini menjadi tulang punggung dan pondasi awal bagi seorang anak,  untuk tumbuh sempurna menjadi pribadi yang tangguh di masa depan.                Seiring dengan dinamika pertumbuhan dan perkembangan PAUD, yang mencakup pertumbuhan dan perkembangan satuan beserta komponen didalamnya, maka  masyarakatpun dituntut untuk lebih peduli dan berpartisipasi dalam mengembangkan PAUD secara holistik integratif.    Adaanya penekanan holistik integratif yang merupakan upaya mengembangkan PAUD pada seluruh dimensi / aspek perkembangan anak, yang mencakup aspek moral dan nilai-nilai agama, aspek bahasa, aspek pengetahuan, aspek fisik motorik, aspek sosioemosional, dan aspek seni, yang kemudian menyatu dengan melibatkan berbagai komponen masyarakat / stakeholders, sehingga irama dan harmonisasi PAUD makin terasa.    Masyarakat sebagai orang terdekat dengan anak dalam kesatuan sosial yang luas, mempunyai tanggung jawab yang besar dalam keberhasilan pengembangan anak.  Selain itu, guru atau pendidik juga tak kalah pentingnya dalam membentuk watak dan karakter anak.  Guru senantiasa berada dengan anak dan memberikan berbagai teladan sehingga dapat menjadi panutan anak.  Karena tak dapat dipungkiri, apapun yang dilakukan guru, anak akan senantiasa menuruti/mengikutinya.             Guru menjadi sosok yang utama bagi anak.  Karena itu, segala tindak tanduk guru mesti dijaga .  Selain citra diri yang dapat diteladani anak,  guru juga harus mampu mengelola pembelajaran dengan baik.  Kemampuan dalam menangkap kearifan lokal sebagai bentuk kekayaan  yang dapat menambah dinamisasi pembelajaran, mesti dapat dilakukan guru/pendidik.             Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat itu sendiri.  Kearifan lokal berlangsung sejak lama dan terus diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya.   Tumbuhnya suatu kearifan lokal, baik dalam adat, cerita, nyanyian, ataupun permainan di masyarakat, merupakan himpunan pengetahuan turun temurun yang dapat ditampilkan secara original maupun termodifikasi.   Maksud termodifikasi disini adalah adanya  aksesoris tambahan yang diramu sedemikian rupa, sehingga makin menambah kekhasan dari kearifan lokal itu sendiri.  Kehadiran kearifan lokal diharapkan mampu mengendalikan dan  menjadi benteng dari pengaruh budaya luar, mampu mengakomodasi budaya luar, mampu memberi arah perkembangan budaya, dan mampu mengintegrasikan budaya luar dan budaya asli.   Bentuk kearifan lokal banyak kita temui di kehidupan masyarakat, seperti adanya catatan berupa sistem nilai, tata cara,  atau ketentuan khusus yang mengikat komunitas adat setempat.  Demikian pula adanya berbagai wujud arsitektural dan karya seni yang dihasilkan oleh masyarakat setempat, dan yang tak kalah pula, adalah adanya kearifan lokal yang bersifat tutur / pesan yang disampaikan secara verbal untuk menegaskan esensi nilai yang ada di masyarakat.                Pesan verbal sebagai kearifan lokal yang disampaikan turun temurun mengandung petuah, nasihat, contoh, serta keteladanan yang dideskripsikan melalui cerita, hikayat, tambo, atau lainnya. Bentuk-bentuk penuturan pesan yang bernuansa kearifan lokal, dalam konteks pembelajaran di PAUD, sangat cocok untuk diadopsi dan dijadikan tema ataupun sub tema.  Adopsi yang tepat  dapat dilakukan secara cermat oleh pendidik PAUD yang handal.   Melalui penjabaran sub-sub tema pembelajaran yang memuat pesan-pesan berkearifan lokal, pendidik akan dapat menyampaikannya secara sistematis, baik lewat cerita maupun sosio drama dan bermain peran serta netode pembelajaran yang lainnya.  Mengeksplorasi pesan berkearifan lokal,  dapat ditelusuri lewat berbagai sumber, kemudian pendidik dapat mengemasnya dalam cerita atau naskah drama yang menarik.  Lewat bertutur/penyampaian pesan dan kreasi yang dibuat oleh pendidik PAUD, maka hal positif yang dapat dibangun adalah  :  Tumbuhnya karakter positif anak didik, lahirnya sikap kritis anak didik tentang budaya disekitarnya, bertambahnya pengetahuan dan perbendaharaan kata dan bahasa anak,  munculnya rasa syukur anak terhadap keragaman yang ada, berkembangnya sikap sosial anak, serta bertambahnya kecintaan anak terhadap seni.  (Penulis adalah Widyaprada pada UPT BP PAUD dan Dikmas Sulawesi Tengah)
Laporan: 
Salehuddin