Sat, 07/20/2019 - 03:51

AHMAD ALI: Bangun Sulteng dengan Konsep 100 Miliar per Kabupaten 

Media Sulawesi | Sun, 06/30/2019 - 08:05
Jakarta- Anggota DPR RI dapil Sulawesi Tengah menyebutkan bahwa konsep incorporate 100 Milyar Satu Kabupateng berbasis kawasan manufaktur adalah menumbuhkan potensi tiap-tiap Kabupaten/Kota untuk mewujudkan kemandirian Sulawesi Tengah. Sehingga, daerah ini memiliki daya tahan secara ekonomi dari guncangan eksternal karena mampu saling memenuhi kebutuhan antara daerah. “Mimpi saya kelak, kita bangun kawasan pada setiap Kabupaten menurut potensi dan keunggulan masing-masing, kita berikan sepenuhnya dana stimulus pada Kabupaten/Kota untuk mengelola dan Pemerintah Provinsi hanya menjadi fasilitator dan dinamisator,” ujar bendahara umum DPP Partai NasDem itu. Untuk mewujudkan itu kata Ahmad Ali, maka sinergitas Pemerintah pusat dan daerah di realisasikan dalam bentuk memberikan stimulus pada Kabupaten/Kota untuk mengelola anggaran yang lebih dalam rangka mendorong kemandirian berdasarkan karakter ekonomi masing-masing Kabupaten/Kota. “Katakanlah, setiap Kabupaten mendapatkan anggaran stimulus 100 milyar dari Provinsi untuk dikelola secara mandiri, maka capital tiap Kabupaten akan besar dan lebih leluasa untuk membangun,” kata dia. Oleh karena itu kata Ahmad Ali, kita butuh inovasi, perbaikan produktivitas, menciptakan iklim kompetitif, bersifat inklusif dan berorentasi tangguh bencana, dan yang paling penting harus dengan kerja keras dan pembuktian. Menurut Ahmad M Ali, kalau kita sejenak kembali pada masa lalu, setidaknya Sulawesi Tengah memiliki landmarch jalur perdagangan kolosal yang sudah terintegrasi dengan pasar global. Berbagai komoditas global kata dia, telah disumbangkan dari laut dan darat Sulawesi Tengah. “Di masa lalu Sulawesi Tengah sudah melakukan hubungan dagang dengan orang luar secara global, dan kita punya banyak kota-kota pelabuhan yang jadi landmarch seperti Donggala, Wani, Tolitoli, Paleleh, Poso, Kolonedale, Banggai Laut, dan sebagainya yang sudah amat menyejarah,” jelasnya. Ahmad Ali mengurai bahwa pendekatan aglomerasi yaitu pemusatan pabrikasi, pekerja, komoditas dan logistik harus didukung pembangunan sekolah-sekolah vocasional untuk menghasil tenaga kerja spesifik di masing-masing daerah berbasis kawasan. “Saat ini kita telah memiliki modal besar setidaknya, dua kawasan yang dinisiasi private sektor berbasis logam dasar dan kimia di Morowali dan Banggai, serta satu usulan pemerintah daerah berbasis perkebunan pertanian dan hasil-hasil bumi,” urainya. Tapi sayangnya kata Ahmad, insentif regulasi daerah belum sepenuhnya mendukung, terutama inovasi birokrasi yang mampu beradaptasi. Kedepan kita perlu mendorong kawasan manufaktur berbasis hilirisasi minyak dan gas,” ujarnya. Mengutip Laporan Bank Indonesia 2019, menyebutkan bahwa ekspor besi baja mencapai USD 951, 90 juta atau tumbuh 19, 23 % sementara ekspor biji nickel USD 25,62 juta sedangkan LNG dan gas amonia dikisaran USD 349,95 juta dan ekspor pertanian perikanan sekitar 52 persen. “Angka-angka ini mengonfirmasi sebuah neraca produk domestik yang sangat positif. Tapi sayangnya belum relevan dengan perbaikan kesejahteraan masyarakat secara umum,” kata Ahmad.Bagi Ahmad Ali, Sulawesi Tengah mengalami kenaikan jumlah angkatan kerja dari tahun ke tahun. Hal itu mengindikasikan kebutuhan akan peluang kerja. Sementara itu kata dia, gap atau ketimpangan antara daerah dan kesejahteraan masyarakat hanya mungkin dapat diwujudkan bila kesempatan kerja terbuka. “Peluang kerja hanya bisa terbuka bila ada pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan hanya bisa naik bila ada investasi, dan tanpa inovasi, iklim yang kompetitif, mustahil hal itu bisa diwujudkan,” kata Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI itu. Dia berharap, sinergitas dengan pemerintah pusat terutama agenda pembangunan infrastruktur dan energi dapat terbangun dalam kurun waktu lima tahun ke depan untuk memastikan bahwa peluang untuk mencapai perubahan mendasar dalam pembangunan Sulawesi Tengah bisa diwujudkan.(*)
Laporan: 
Sam
Tags: