Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu menggelar diskusi fotografi mengenai hak cipta atau Hak atas Kekayaan Intelektual (Haki) dan mencegah penyebaran berita bohong (hoaks), di Palu, Sabtu (10/8/2019) pagi.(ist)

Palu,mediasulawesi.com-Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu menggelar diskusi fotografi mengenai hak cipta atau Hak atas Kekayaan Intelektual (Haki) dan mencegah penyebaran berita bohong (hoaks), yang dilaksanakan di Warkop The Coffe Nokilalaki, Jalan Nokilalaki, Kelurahan Besusu Tengah, Sabtu (10/8/2019).

Diskusi itu menghadirkan pemateri seorang fotografer jurnalis, Basri Marzuki dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, Muhammad Iqbal.

Dalam materinya, Basri menyampaikan, setiap fotografer dari genre apa saja, sebaiknya harus dapat memahami setiap regulasi-regulasi dan etika dalam fotografi, terutama mengenai hak cipta suatu karya foto maupun aturan dari agensi-agensi foto, ketika seseorang hendak mengirim karyanya.a”Ada dua pilihan, anda memotret hanya sekadar kepuasaan dan eksistensi atau memotret demi kebutuhan ekonomi, kalau untuk ekonomi, maka saya sarankan pelajari ketentuan-ketentuan yang ada,” jelasnya.

Sementara, Iqbal mengajak para peserta untuk senantiasa skeptis ketika menerima informasi, karena tidak ada informasi yang mutlak kebenarannya apalagi ketika beredar di media sosial (medsos). Olehnya diperlukan ketelitian untuk mendeteksi setiap informasi maupun foto-foto melalui beberapa tools pencarian yang dikeluarkan goggle.
“Banyak sekali informasi-informasi yang   kita tidak ketahui pasti kebenarannya, untuk itu dibutuhkan sedikit saja waktu kita untuk mau mendeteksi kebenaran suatu informasi yang beredar di internet atau medsos, sehingga kita termasuk dalam kalangan para penyebar hoaks,” ujar Iqbal.

Ketua PFI Palu, Roni Sandhi mengatakan, diskusi itu melibatkan para komunitas foto, humas dari beberapa instansi pemerintah dan Polri, serta mahasiswa. Dia berharap, kegiatan itu dapat memberikan manfaat bagi para peserta, khususnya tentang hak cipta suatu karya foto, serta peserta diharapkan tidak menjadi penyebar berita atau foto hoaks, karena ketidakmampuan mendeteksi informasi yang beredar di medsos.
“Semoga diskusi ini bermanfaat bagi kita sekalian, dan kedepannya kegiatan ini akan dapat terlaksana lagi, tentunya demi kemajuan fotografi Sulteng,” tutupnya. (SAM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here