Salah seorang ibu menggendong bayinya di bawah tenda pengungsian.(faiz)

Palu,mediasulawesi.com-Ujian masih enggan berlalu dari para penyintas di Kota Palu. Bukan hanya kepastian hunian tetap, dana stimulan jadup pun tak kunjung cair hingga kini. Masalah ini pun berdampak terhadap kebutuhan anak kecil dan bayi di pengungsian. Seperti yang terjadi di tenda pengungsian Jalan Sumur Yuga. Sejumlah penghuni tenda yang memiliki bayi kini kesulitan mendapatkan kebutuhan susu untuk bayinya.

Intan dan Irsyad contohnya, sepasang suami istri yang juga  penyintas di tenda pengungsian Balaroa saat ini sedang merawat anak mereka bernama Naura yang berusia delapan bulan. Intan menceritakan tertatihnya dirinya da n sang suami Irsyad saat dikepung tanah disertai lumpur bergerak mendesak mereka.

Intan yang pada saat terjadinya pergerakan tanah itu sedang berdua di rumah bersama sang anak pertama bernama Putri yang berumur delapan tahun. Waktu menunjukkan sekitar pukul 18:02, pertanda waktu sholat maghrib tiba dan Irsyad telah berada di salah satu masjid di kompleks Perumnas Balaroa untuk menunaikan sholat maghrib.

Belum lagi diperparah Intan saat itu sedang dalam kondisi mengandung Naura yang masih didalam perut usia 7 bulan kehamilan,” saya terbentur benda disana sini, sambil bingung saya berusaha keluar rumah sama putri. Pasrah sudah kita waktu itu.” Katanya dengan raut wajah sedih.

Namun takdir berkendak lain, ajal belum menyapa mereka. Intan dan Irsyad mengatakan masih tak menyangka bisa selamat dari ganasnya pergerakan tanah yang menelan apa pun disekitarnya kala itu.

53 hari pasca bencana 28 September tepatnya hari Rabu 21 November 2018, lahirlah Naura lewat cara premature.

Di masa persalinan tiba, bayi Naura yang semestinya belum lahir tepat 9 bulan itu terpaksa harus segera dilahirkan pada bulan kedelapan. Menurut salah seorang dokter di Rumah Sakit Bala Keselamatan Kota Palu yang menangani persalinan Intan, kemungkinan keselamatan antara ibu dan bayi kecil. Seketika Intan merasa sedih memapah kanyataan itu, dirinya mengatakan sangat pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan apa pun hasilnya.

Secara bersamaan, Irsyad sebagai suami menguatkan diri saat diminta menandatangani surat keterangan hitam diatas putih jika terjadi hal yang tak diinginkan saat masa persalinan.

Namun kenyataannya setelah persalinan usai, rasa syukur dan gembira meredam perasaan khawatir dari keluarga kecil ini, Intan dan bayi Naura  selamat melewati masa menegangkan itu.

Perjuangan Intan melahirkan dan membesarkan Naura belum berakhir sampai disitu, pasca kelahiran Naura, keluarga kecil yang terdafatar sebagai peserta BPJS mandiri ini ironinya tak bisa digunakan, karena perekonomian lemah iuran BPJS mereka selama beberapa bulan belum terbayarkan.

Permasalahan lain muncul, sudah tujuh hari Intan dan Irsyad bermalam di Rumah Sakit ditambah biaya operasi sesar yang diperkirakan memakan biaya hingga belasan juta rupiah. Kartu BPJS tak berfungsi serta tak memiliki biaya melunasi administrasi RS, Irsyad terpaksa menjual sepeda motornya yang ternyata ia pakai berojek di kesehariannya tetapi sayang uang hasil menjual motor itu masih jauh dari kata cukup.

Sembari memutar otak mencari cara  melunasi administrasi RS, Irsyad teringat sewaktu di tenda pengungsian sebelumnya ada sosialisasi dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng bahwa bagi penyitas ibu hamil terdampak bencana akan mendapatkan bantuan persalinan gratis. Namun ternyata sosialisasi itu tak sampai ke pihak RS BK dan sempat membuat Irsyad berjuang tertatih memulangkan Intan dan Naura kembali ke tenda pengungsian.

Setelah berhasil meyakinkan pihak RS BK, Intan dan Irsyad bersama sang buah hati yang baru lahir pulang kembali ke tenda pengungsian Balaroa.

Dari situ episode baru perjuangan Intan merawat Naura memasuki tahap baru. Naura yang awalnya lahir dengan berat hanya 1,7 gram ini sangat membutuhkan perhatian khusus dari sang ibu, terutama asupan ASI eksklusif.

Beruntungnya kandungan ASI yang dimiliki Intan mencukupi. Tetapi kondisi lingkungan sekitar tenda Intan yang sengkarut dan terlihat kurang bersih untuk ukuran bayi menjadi perhatian khusus bagi Intan dan Irsyad, “waktu bulan-bulan pertama Naura lahir itu sering sakit dia, biasa sampai satu minggu lebih.” Kata Intan. Panas, mual, hingga diare sederet penyakit menerpa bayi cantik itu atau kata Intan jika dalam bahasa Kaili biasa disebut “nalingkao”.  

Belum lagi panasnya terik matahari di saban hari merongrong ke dalam tenda membuat tak nyaman Intan sekeluarga. Jika Naura sudah rewel ingin diberi ASI, dengan terpaksa jika biasanya waktu telah memasuki pukul 10 pagi, Intan bergegas membawa Naura ke sebuah bilik terbuka dipinggir jalan Sumur Yuga milik tetangga tendanya yang sekaligus dipakai berjualan minuman dingin.

Menurut Intan hal itu tentu membuat dirinya risih disaat menyusui Naura, lalu lalang kendaraan warga sekitar maupun orang yang ingin membeli minuman pemilik bilik merasa kedua belah pihak tentu terganggu, “yaa mau bagaimana lagi, mau menyusui di dalam tenda itu panasnya minta ampun, naura pasti rewel.” Keluhnya sembari menggendong Naura saat itu.

Hal itu diakali Intan dengan cara memakai jilbab panjang sehingga bisa menutupi wilayah auratnya saat memberi ASI kepada Naura. “ruangan khusus bagi ibu menyusui juga tidak ada di shelter balaroa ini. Padahal ada berapa memang ibu menyusui disini selain saya.” Tambah Intan.

Beruntungnya keluarga dekat Intan bersedia membantu jika terjadi kendala yang tak diinginkan di tenda seperti akan mengalami sakit. Intan dan Irsyad biasanya bergegas membawa Naura ke rumah keluarga tersebut di daerah Duyu. Satu hingga dua pekan kadang Intan bersama Naura dan Putri tinggal di rumah itu, sementara Irsyad harus kembali dan tidur di tenda karena masih memiliki barang-barang di dalam tenda.

Sejak usia Naura berjalan delapan bulan saat ini, berat badan Naura terakhir 5kg namun Naura saat ini turun menjadi 4kg menurut perkiraan Intan, “sudah dua kali kita bawa ke dokter, menurut dokter perkembangan Naura bagus, hanya perlu asupan gizi yang lebih teratur lagi. Tadi pagi juga habis saya bawa pijat dia, biar kondisinya sehat normal ulang.” Terang Intan saat diwawancara saat itu.

Dirinya juga tak ingin memberikan susu formula kepada Naura karena, selain menuruti saran dari dokter, Intan menganggap ASI eksklusif lebih aman dan menyehatkan sekaligus menghemat biaya kebutuhan lain keluarganya.”syukurnya ASI ku lancar sampai sekarang.” Tutupnya.

Selain Intan, cerita hampir serupa juga dialami Raodah, penyintas Balaroa sekaligus Ibu yang konsisten memberi ASI kepada sang anak bernama Hafidz ini mengeluh tak disediakannya ruang khusus di area tenda pengungsian bagi ibu menyusui, padahal menurut Raodah hal itu penting diterapkan guna menjaga keamanan bagi bayi dan ibu demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi

“sama-sama biasanya saya dengan mamanya naura itu menyusui di bilik jualan ini, bisa lihat sendiri kan kalau sudah sore begini banyak orang lewat di jalan itu.” Ujar wanita yang sekarang hanya sebagai ibu rumah tangga ini.

Sebelum terjadi bencana 28 September dulunya Raodah berjualan siomay bersama suami, namun pekerjaan itu tak lagi dilakoninya karena modalnya telah habis dipakai menyambung hidup di tenda pengungsian.

Popok dan pakaian bayi menjadi kebutuhan khusus bayi yang masih minim dimiliki baik Raodah maupun Intan. Kedua ibu rumah tangga ini sedikit berharap bantuan kebutuhan tersebut.

Menurut keterangan Raodah dan Irsyad suami dari Intan, alasan mereka tidak pindah ke huntara Duyu yang juga diberikan bagi penyintas Balaroa karena telah penuh dihuni oleh penyintas lainnya. Kekhawatiran mereka juga jika telah memindahkan barang di tenda ke huntara secara otomatis nama mereka akan dihilangkan dari daftar penghuni tenda dan tak bisa kembali ke tenda tersebut.

“dulu juga saya dengar ada masalah tanah di huntara itu, makanya saya putuskan dari awal menetap di tenda saja.” Kata Irsyad yang dipercaya sebagai imam masjid darurat tenda pengungsian Balaroa ini.

Keduanya terakhir berharap jadup maupun dana stimulant segera direalisasikan oleh pemerintah Kota Palu, karena ditambah tak adanya kejelasan huntap yang saat ini sedang mangkrak dari proses pembangunan membuat mereka merasa ambigu dengan hak bagi penyintas terdampak bencana alam.

Bantuan berupa modal atau peralatan usaha kecil dari sesiapa pun mereka suarakan. Menurut mereka dengan berusaha dengan cara berjualan minuman atau makanan kecil-kecilan mampu menutupi kebutuhan hidup khususnya bagi kebutuhan bayi mereka. (M Faiz Syafar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here