Pemberian bantuan peralatan secara simbolis oleh perwakilan Badan Dunia PBB kepada nelayan Teluk Palu.(FAIZ)

Palu, Mediasulawesi.com –  Para masyarakat nelayan perikanan tangkap sepanjang garis pantai teluk Palu hingga pesisir pantai Kabupaten Donggala kembali bersemangat berburu hasil laut, setelah mendapat bantuan seperangkat alat melaut dari Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau FAO.Hanya menyisakan puing-puing bangkai perahu, peratalan melaut para nelayan pun hilang terbawa gelombang dahsyat tsunami kala itu. Cerita itulah yang umum ditemui jika mendengar keluh kesah mereka.

Olehnya itu, lembaga internasional yang didirikan pada tahun 1945 dibawah naungan PBB ini mendukung penuh pemulihan ekonomi masyarakat, khususnya nelayan tangkap ikan Kota Palu dan Donggala, usai bencana gempa dan tsunami tanggal 28 September 2018 silam memorakporandakan kedua wilayah itu.

Berkat dukungan dari Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng, Kota Palu serta Kabupaten Donggala, hari ini, Rabu (28/8/2019) FAO mendistribusikan input peralatan perikanan tangkap berupa jaring dan kotak pendingin untuk 2.650 rumah tangga nelayan yang tersebar di 69 desa dan 15 kecamatan di Kota Palu Palu dan Donggala.

Menurut hasil pendataan pihak FAO, dari total 2.650 nelayan itu terdiri dari 1.533 nelayan Kabupaten Donggala dan 1.107 dari nelayan Kota Palu.

Dari jumlah angka 1.107 tersebut, mereka berasal dari warga Kelurahan Kampung lere Hingga sebagian Kelurahan  Silae Kota Palu. Sedangkan untuk Kabupaten Donggala, wilayah intervensi dan penyuluhan pihak FAO tersebar di sembilan kecamatan mulai dari Kecamatan Banawa dan Banawa Selatan serta Kecamatan Balaesang dan Balaesang tanjung.

Melalui penyerahan secara simbolis, bantuan yang sangat bermanfaat bagi nelayan ini dihadiri langsung oleh Dirjen Perikanan Tangkap Kementrian kelautan dan perikanan (KKP) Zulficar Muchtar, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Hidayat Lamakarate, Wakil Bupati Donggala M Yassin, dan Asisten FAO Representative in Indonesia – Program Ageng Herianto.

Proses identifikasi penerima manfaat dilakukan dengan kordinasi yang erat antara DKP Provinsi Sulteng, DKP Kota Palu, dan DKP Kabupaten Donggala serta dukungan dan kordinasi dari kantor gubernur khususnya sekretaris daerah prov Sulawesi Tengah.

Wakil Bupati Donggala M Yassin mengatakan bahwa nelayan di Donggala telah bangkit namun tetap membutuhkan bantuan terutama untuk peralatan.  Bantuan dari FAO telah membantu para nelayan untuk memulihkan mata pencaharian mereka.”Nelayan di Donggala telah bangkit. Namun membutuhkan bantuan berupa peralatan, ” Kata Yasin.

Asisten FAO Representative in Indonesia-Program Ageng Herianto mengatakan bahwa FAO berkomitmen untuk membantu Indonesia saat bencana maupun krisis.”Keluarga petani dan nelayan selalu menjadi perhatian kami, Belajar dari pengalaman kami sebelum-sebelumnya mulai dari tsunami Aceh sampai ke bencana Palu, kami berkomitmen memberi bantuan yang merata dan sesuai kriteria  melalu pendataan hasil kerjasama dengan pemda. Itu salah satu komitmen kami.” Kata Ageng

FAO telah mengembangkan proyek ketahanan pangan sebesar 1, 2 juta USD sebagai bentuk respon terhadap gempa dan tsunami yang melanda Palu, Sigi dan Donggala pada 28/9/2018.

Fokus program FAO di Palu, Sigi dan Donggala meliputi sektor  pertanian, perikanan dan peningkatan nutrisi untuk keluarga petani dan nelayan. Terdapat lebih dari 14 ribu keluarga, atau  lebih dari 70 ribu jiwa penerima manfaat FAO yang terdiri petani, nelayan dan keluarganya,  mendapatkan bantuan yang telah diberikan sejak bulan Juli lalu.

Heris (52) kepala kelompok Nelayan Pelita di Loli Pesua kecamatan Banawa, Donggala mengatakan bahwa kelompok – kelompok nelayan di desanya telah kembali bangkit untuk melaut.”Tiga bulan setelah tsunami, kami telah kembali melaut. Namun karena peralatan hancur, kami hanya melakukan dengan alat yang ada di tangan. Bantuan berupa peralatan amat membantu kami untuk pulih” ujar nelayan yang telah melaut selama 30 tahun ini.

Namun, Abtar mengakui bahwa tantangan ke depan cukup besar. Salah satunya adalah karang – karang yang hilang karena terseret tsunami sehingga nelayan banyak yang kehilangan tempat memancing.

Selain itu belum meratanya bantuan, terutama pada nelayan-nelayan yang kehilangan kapal.”Namun dengan semua  tantangan itu, kami  optimis bahwa kami dapat kembali melaut, ” tandasnya. (Faiz Syafar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here