Palu,mediasulawesi.com – Siang itu Agil (41) duduk santai di gubuk rakitannya sendiri. Ia menatap hamparan kebun tomat miliknya seluas seperempat hektar. Kebun tomat yang ditanam sejak 17 Juli 2019 itu mulai memberi harapan kuat untuk dipanen. Buah yang masih berwarna hijau itu ada yang masih berukuran seberat 8 gram, ada juga buah yang hampir sempurna berukuran rata-rata 180 gram.“perkiraan panen tomat ini sekitar awal atau pertengahan September mendatang.” Katanya.

Tak hanya tomat, Agil juga menanam jagung manis dan cabai sebagai  komoditi yang sangat memungkinkan ditanam dibalik keringnya saluran irigasi dari sungai Gumbasa yang tak dialiri air lahan sawahnya akibat gempa melanda wilayah Palu, Sigi, dan Donggala 28 September.

Lanjut Agil, pemilihan bertani jenis tanaman holtikultura atau tanaman buah dan sayuran karena jenis tersebut hanya membutuhkan sedikit suplai air.Olehnya itu, petani yang juga sebagai ketua kelompok tani Taruna Tani Karya Mandiri ini berinisiatif bersama petani kelompoknya membuat sumber air dari sumur dangkal dan sumur suntik, “walaupun pakai sedikit air, tapi tetap kita harus punya penyimpan air. Nah solusinya membuat sumur ini.” Ungkap Agil.

Namun membuat sumur itu jauh dari kata bebas biaya, untuk satu sumur dangkal dengan minimal kedalaman 8-10 meter didalam tanah guna mencapai titik air, Agil harus merogoh kantong sakunya seharga dua juta rupiah, sedangkan untuk sumur suntik dengan membutuhkan kedalaman sekitar 20 meter, Agil mengeluarkan biaya sepuluh juta rupiah atau bisa lebih dari itu.“belum lagi untuk biaya operasionalnya per hari minimal kita keluarkan 70 ribu, seperti bensin dan lain-lain.” Kata Agil.

Untuk operasional tersebut, lanjut Agil biasanya bertahan empat sampai lima hari pemakaian.“Untungnya, setiap petani di kelompok tani karya mandiri ini sepakat mencari solusi dan saling membantu mengatasi untuk hal yang berkaitan dengan biaya ini.” Ujar Agil yang sedang menunjuk sumur dangkal hasil kerja swadaya kelompoknya.

Kelompok tani di Desa Kotarindau ini memiliki total seluas 25 hektar lahan pertanian. Masing-masing petani memiliki luas lahan beragam, ada yang ¼ ha dan sampai 1,5 ha.Kelompok tani Taruna Tani Karya Mandiri ini dinaungi oleh Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Singgani asal Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi. Agil mempunyai 20 petani termasuk dirinya yang tergabung dalam kelompok tani tersebut.

Berawal dari inisiatif dan ketertarikan anak muda Desa Kotarindau terhadap potensi besar wilayah Sigi sebagai lahan pertanian, Agil bersama 19 orang itu membentuk kelompok tani Taruna Tani Karya Mandiri sejak 15 Maret 2017.

Agil menguraikan, sejak terjadinya bencana dahsyat 28 September 2018, memaksa mereka kehilangan pekerjaannya, hampir sebagian masyarakat Desa Kotarindau yang mayoritasnya berprofesi sebagai petani memilih mencari pekerjaan lain demi mencari sesuap nasi.

Belum lagi pria yang bertani selama kurang lebih 20 tahun ini adalah petani padi, akan tetapi bertani untuk jenis makanan pokok masyarakat Indonesia ini sulit dilakukan, karena padi ungkap Agil adalah jenis tanaman yang sangat bergantung dengan kelancaran air, “makanya solusinya adalah menanam holtikulutura ini dulu sampai air yang bersumber dari Gumbasa sana lancar kembali.” Urai Agil.

Dengan berbagai kesulitannya, Agil memutar otak mencari beragam cara agar 19 orang anggotanya ini masih mau dan kembali bertani. Akhirnya dimulai dari dirinya, lima bulan pascabencana tepatnya awal Februari 2019 satu per satu anggotanya kembali ke lahan pertanian dan semangat bertani kembali dengan alternatif menanam tomat, cabai, jagung, bawang, dan lainnya.

Bergeser ke atas atau tetangga Desa Kotarindau, ialah Desa Langaleso, yang hampir seluruh penduduknya adalah petani ini memiliki kisah serupa tapi tak sama dengan petani Kotarindau.Desa yang terdampak parah menanggung lumpur dan puing bangunan skala besar akibat likuefaksi dari wilayah seberang yakni Desa Jono Oge ini merusak sebagian  besar lahan pertanian mereka, khususnya di dusun tiga Desa Langaleso.

Tetapi bagi Lisma (36) warga dusun dua Desa Langaleso sangat bersyukur dirinya masih bisa menanam cabai sebagai pengganti sementara padi yang biasa ditanamnya.

Lahan Lisma yang tak terkena langsung dampak likuefaksi Jono Oge ini mengaku alasannya  memilih menanam cabai karena selain tak membutuhkan banyak air, juga lahan yang dipakai juga tak perlu luas seperti padi.“Dari sejak sebelum gempa saya juga menanam padi, tapi lebih banyak tanaman horti ini.”

Disamping itu, Lisma mengungkapkan masih merasa kesulitan menanam benih yang ada, karena masih sangat minimnya air sebagai syarat dasar bagi pertanian,”makanya masih banyak sekali benih yang saya belum tanam itu.

Data dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi menyatakan, saat akhir Juli 2019 petani Desa Kotarindau semisal Agil sempat merasakan manisnya hasil panen dari penjualan tomat ke pasar Manonda Palu, tempat rutin mereka menjual hasil panen.

Harga jual mereka pada akhir Juli itu mencapai angka 7.000-8000 ribu rupiah per kilogram. Namun seperti yang diungkapkan salah satu penyuluh, Rifa Intan, sekitar dua minggu lalu tepatnya 15 Agustus saat panen, harga pasaran tomat anjlok dengan menunjukkan angka 700 rupiah per kilogram.“itu ungkapan mereka (petani) pas saya kunjungi beberapa waktu lalu.” Ungkap Rifa.

Lanjut Rifa, hal tersebut terjadi karena banyaknya pemasok yang datang dari luar Kota Palu dan sekitarnya, “itu sebabnya kita sebagai penyuluh tidak bisa menentukan pendapatan petani, karena permainan harga itu.” katanya

Tetapi Rifa memastikan kualitas hasil panen yang dimiliki oleh petaninya dengan hasil petani luar Palu sangat signfikan, diantaranya ketahanan buahnya yang masih segar dan tingkat kematangannya pas.

Rifa mengatakan sekitar sebelas desa di Kecamatan Dolo yang terdampak gempa 28 September, diantara sebelas desa itu terdapat tiga desa yang terdampak parah dan sampai saat ini masih sulit melakukan aktifitas pertanian, ialah Desa Karawana, Soulove, dan Potoya.

Disamping itu Rifa senada dengan keluhan petani yang ditanganinya, persoalan air tak kunjung tersedia. “walaupun pakai alternative seperti sumur dangkal, tapi kadang tidak semua selalu ada airnya.” Jelas Rifa.

Kepala Balai Penyuluhan Petani Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi, Siti Darwisah didampingi Rifa Intan saat itu mengharapkan bantuan dari para pihak diluar Pemda, sambil menunggu penyelesaian saluran irigasi sungai Gumbasa yang dikatakan Bupati Sigi beberapa waktu lalu. “kita harap sekali ada bantuan untuk saluran air ke lahan petani ini, dari manapun. Pak Bupati juga membuka diri kepada berbagai NGO untuk bantuan apapun kepada masyarakat Sigi, khususnya air untuk petani.” Kata Darwisah.

Darwisah dan Rifa sepakat mengatakan contoh petani seperti Agil sangat patut diapresiasi. Bagaimana tidak, mereka berdua mengutarakan satu bulan pascabencana 20 September Agil kembali memulai aktifitasnya bertani dengan berbagai aspek kesulitan dan kekurangan.

Ternyata menurut  penyuluh pertanian ini para petani sebelum gempa mempunyai inisiatif menyimpan benih hortikultural, “tanpa kita duga bencana sudah terjadi, dan mereka berkata kepada kami merasa bersyukur menyimpan benih punya mereka sendiri, sehingga bisa ditanam pascabencana.” Kata Darwisah.

Terkait hal itu, salah satu lembaga internasional yang berfokus pada ketahanan pangan dan pertanian, FAO membantu para petani dikedua desa itu dengan memberikan benih, pupuk, serta mulsa.

Masing-masing ketiga kategori itu diberikan kepada per petani dengan berjumlah dua bungkus benih untuk satu jenis komodit, 50 kilogram pupuk npk 16:16, dan 125 cm mulsa.

Menurut keterangan dari Davidson Rato Nono selaku Koordinator wilayah Sigi FAO, jangkauan bantuan yang diberikan FAO tersebar di 8 kecamatan di Kabupaten Sigi, diantaranya Kecamatan Biromaru, Dolo, Tanambulava, Gumbasa, Marawola, Dolo Barat, Kinavaro, serta Kulawi Selatan

Untuk Kecamatan Dolo sendiri, FAO menyalurkan bantuannya di sebelas desa, dan Desa Kotarindau dan Langaleso termasuk dari kesebelas desa tersebut.

Davidson menguraikan, sejak bulan November 2018 kali pertama FAO mengumpulkan data untuk kebutuhan penyaluran bantuan, FAO telah mendistribusikan 430 ton pupuk, lebih dari 7 ton benih jagung, tomat, dan cabai rawit, dan lebih dari 500 ribu meter mulsa plastik untuk tiga daerah terdampak, Palu, Sigi, dan Donggala.“untuk desa Kotarindau dan Langaleso sendiri, kami mulai menyalurkan batuan horti ini tanggal 3 Juli 2019, dengan melakukan pendataan yang cukup ketat hasil kerjasama dengan BPP.” Ujar David.

Asisten FAO Representative di Indonesia – Program, Ageng Herianto mengatakan distribusi tiga sektor kebutuhan pertanian yang diberikan FAO itu merupakan upaya  stimulan agar para petani yang sempat mangkrak berproduksi akibat bencana  28 September 2018.“Kami mau memastikan bahwa petani dan nelayan di daerah terdampak bencana dapat kembali menyambung tali perekonomian mereka.” Ujar Ageng.

Lanjut Ageng, program penyaluran stimulan ini memakai biaya dari Dana Tanggap Darurat Pusat PBB (CERF) dengan nominal USD 1 juta. Dana tersebut digunakan untuk membantu meringankan beban pemerintah daerah dalam menangani bencana Pasigala.

Di Kota Palu terdapat 1.137 petani penerima manfaat yang tersebar di 27 kelurahan, dilanjutkan di Kabupaten Sigi 4.687 petani di 67 desa, kemudian di Kabupaten Donggala dengan jumlah 2.773 petani yang tersebar di 37 desa  penerima manfaat dari FAO. (M Faiz Syafar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here