Salah satu bentuk kegiatan belajar di Taman Baca Huntara Banua Petobo.(ist)

PASCA bencana yang menimpa Kota Palu, Sigi dan Donggala,28 September 2019 silam,proses pemulihan dan rekonstruksi terus digenjot. Salah satu sektor yang menjadi perhatian serius adalah pendidikan.Tidak hanya pemerintah, pihak swasta pun turun tangan merehabilitasi sarana prasarana pendidikan maupun anak-anak penyintas.

Adalah Sai Study Grup Indonesia (SSGI),salah satu lembaga swasta yang konsen di bidang kemanusiaan ikut peduli terhadap korban bencana gempa bumi,tsunami dan likuifaksi di Kota Palu. Setelah memberikan bantuan kesehatan serta 108 blok huntara, SSGI melalui lembaga yang bergerak di bidang pendidikan yakni Lembaga Pendidikan Sathya Sai Indonesia (LPSSI) membangun sarana tempat belajar dan bermain bagi anak-anak di huntara Petobo. Wadah tersebut diberi nama Taman Baca (TB) Huntara Banua Petobo.

Koordinator TB Huntara Petobo Ni Komang Darmini kepada media ini Ahad (8/9/2019) menuturkan latar belakang dibentuknya Taman Baca Huntara Banua Petobo sejak Februari 2019 lalu karena keprihatinan terhadap anak-anak yang berada di huntara. Kondisi lingkungan di huntara, memberi dampak atau pengaruh psikologis bagi anak-anak  ‘’Mereka butuh tempat bermain, belajar dan mengembangkan kreativitas. Kita tidak boleh biarkan mereka larut dengan suasana huntara maupun trauma bencana. Kita harus bangkitkan semangat mereka,’’terangnya.

Dengan hadirnya Taman Baca Huntara Banua Petobo, lanjutnya, diharapkan bisa membangkitkan semangat dan gairah membaca, belajar serta mengembangkan kreativitas anak-anak. Yah, kegiatan ini sekaligus tentunya membantu pemerintah dalam menggalakkan Gerakan Literasi. Selepas pulang sekolah, anak-anak memanfaatkan waktunya untuk bermain dan belajar di tempat tersebut. Untuk memancing anak-anak itu, pengelola pun menyiapkan fasilitas dan alat-alat belajar. Bagi yang suka membaca, ada 700 lebih buku baik buku pelajaran, cerita,dongeng maupun komik disediakan. Ada juga disediakan alat-alat menggambar,tulis dan melukis bagi yang suka berkreasi. ‘’Kalau bosan belajar,membaca  atau berkreasi, pengelola juga menyiapkan sarana bermain (play ground),’’sebutnya.

Meski terbilang baru, namun keberadaan Taman Baca Huntara Banua Petobo diakuinya telah memberi dampak signifikan bagi anak-anak di sekitar lokasi tersebut. Setiap hari, rata-rata 20 hingga 30 anak-anak usia 5 hingga 12 tahun datang dan belajar di tempat itu. Ruangan berukuran sekira 8 x 6 meter ini selalu ramai setiap jam 3 hingga 6 sore. Komang pun menerapkan program pendidikan non formal di tempat itu dengan konsep yang menyenangkan. Program itu antara lain les bahasa Inggris, calistung,magic science, dongeng,kelas inspirasi,menggambar, senam dan tari. Jadi ada banyak pilihan dan semuanya diberikan secara gratis.

Untuk merangsang minat anak-anak banyak membaca dan senang membaca, Komang memberi hadiah khusus berupa poin. Bagi yang dapat poin 100 akan diberikan sertifikat. Tidak hanya itu, anak-anak yang mampu mencapai poin 1000 disiapkan hadiah lebih besar berupa berenang gratis di kolam hotel. Efeknya pun cukup besar. Terbukti, anak-anak jadi betah dan semakin ramai datang membaca. Bahkan ada yang sampai meminta untuk menginap di tempat itu.

Efek positif itu membuat Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Tadulako ini semakin termotivasi mengelola dan mengembangkan wadah tersebut. Meski harus bekerja sendiri, namun itu tidak menyurutkan semangatnya. Dukungan berbagai pihak termasuk pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Perpustakaan Wilayah menjadi pelecut semangatnya untuk membantu anak-anak penyintas dalam mengembangkan kreativitasnya untuk menggapai masa depannya.(syamsuddin).  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here