panitia festival lembah lore menggelar konfrensi pers Selasa kemarin.(ist)

Palu,mediasulawesi.com – Komunitas masyarakat Lore menggelar festival lembah Lore, di Desa Wanga, Kecamatan Lore Peore, Kabupaten Poso, akan berlangsung pada Jumat, (20/9)- Minggu (22/9).Selain pertunjukan seni tradisi dan budaya lembah lore, camping ground juga akan dihadirkan di festival perdana itu.

“Pemandanganya sangat indah, sulit untuk menggambarkan, bagaimana sensasi rasanya menikmati pemandangan dan dinginnya cuaca lembah Lore,” demikian dijelaskan Ketua panitia Festival Lembah Lore Muhammad Subarkah saat konferensi pers di salah satu hotel Kota Palu, Selasa, (10/9) sore.

Subarkah menerangkan, festival itu nantinya akan menampilkan beragam kegiatan diantaranya, pameran produk komunitas, mozaik tanaman obat tradisional, diskusi bersama, mozaik tanaman pangan Lariang, pertunjukan seni dan eksibisi lembah Lore.

Ia mengatakan, dan masih banyak kekayaan budaya terpendam di lembah Lore, bagaimana merasakan kebersamaan dengan masyarakat lembah Lore.

“Bahkan bisa berkunjung ke tempat penghidupan mereka seperti kebun, sawah, hingga ada juga peternakan kerbau di wilayah Bada sana.” Ungkapnya.

Festival Lembah Lore kata Subarkah semestinya diselenggarakan pada tahun 2018, namun karena tahun tersebut sebagian besar wilayah Sulteng tertimpa musibah gempa bumi, dirinya bersama pihak panitia lainnya bersepakat menunda festival akbar itu.

Tujuan dasar diadakannya festival ini diharapkan mampu mendorong beragam kekayaan alam dan tradisi yang ada di lembah Lore ke pelosok negeri hingga dunia, khususnya di Desa Wanga, sekaligus juga merajut tradisi dan melestarikan alam yang dikandung Lembah Lore.

“Lebih memperkenalkan tradisi dan kekayaan budaya lembah Lore, makanya kami tidak memakai perform yang bernuansa modern, jadi murni diperkaya tradisi.” Kata Abal sapaan akrabnya.

Ia mengatakan, dengan diselenggarakannya festival diharapkan mampu merajut kembali tradisi yang mulai tergerus seiring perkembangan teknologi dan tingginya kreativitas, tetapi luput dengan tradisi yang ada.“Semakin maju peradaban, tentunya tradisi secara otomatis akan ikut maju di masa yang akan datang, dan bukan justru hilang dari peradaban.” Imbuhnya.

Salah satu panitia Mitha, menguraikan bahwasanya pemilihan lokasi festival di Desa Wanga karena di desa itu terdapat makam Raja Lore. “Selain makam, Desa Wanga dulunya adalah lokasi berdirinya Magau Raja Kabo atau biasa dikenal Magau Lore.”

Nantinya saat hari-H festival tambah Mitha pengunjung akan diajak mengenal riwayat dan sejarah Raja Kabo. Panitinya nantinya akan menyediakan pihak-pihak yang berwenang ataupun keluarga keturunan Raja Kabo guna menjelaskan sejarah raja yang diperkirakan berkuasa di ratusan tahun silam. (Faiz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here