Sejumlah petugas berusaha memadamkan api yang melalap hutan dan lahan di Kecamatan Tojo (ist)

Palu, Mediasulawesi.com – Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kecamatan Tojo dan Tojo Barat Kabupaten Tojo Una-una pada Senin (9/9/2019) hingga saat ini belum bisa di padamkan. 

Diperkirakan kebakaran hutan ini telah merembet ke dua kecamatan yakni kecamatan Tojo dan Tojo Barat yang meliputi desa Lemoro, Betaua, Tayawa, Korondoda dan Uekuli. Sedangkan di Kecamatan Tojo Barat meliputi Desa Malewa, Mawomba, Tanamawawu dan Kabalo.

Berdasarkan penuturan Halim (35) Warga desa Kabalo, hingga saat ini api belum padam dan diperkirakan bisa meluas hingga 100 Ha lahan yang terbakar di desa Kabalo.Kondisi seperti ini sangat menyulitkan Halim dan warga lainnya.’’ini sangat menyulitkan kami, apalagi asapnya cukup tebal dan akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan warga masyarakat”. Imbuh Halim

Selain itu, menurut dia terdapat 100 orang warga desa Tanamawawu yang diungsikan di desa Kabalo dan terdapat seorang warga masyarakat yang mengalami muntah darah akibat terdampak asap tersebut ketika mencoba membantu untuk memadamkan api. Tutur Halim.

Disamping itu, Zainal Roring (31) menuturkan bahwa hingga saat ini Pemda Tojo Una-una dan Pemda Poso sudah mengerahkan Pemadam Kebakaran untuk membantu memadamkan si jago merah.

Bantuan itupun terpaksa terhambat karena medan yang sangat sulit sehingga mobil Damkar yang turun belum mampu untuk menjangkau beberapa titik api yang telah muncul.“Kami hanya menggunakan alat seadanya untuk memadamkan api, baik itu rumput-rumput, alat semprot dsb. Walau sudah ada Damkar yang dikerahkan oleh Pemda Touna dan Poso, tapi karena akses yang sulit alhasil Damkar tersebut belum mampu memadamkan api ini”.  Jelas Zainal.

Dia juga menambahkan bahwa, api telah melahap lahan yang cukup besar. Di desa Lemoro sendiri tempat dia berdomisili bisa diperkirakan 300 Ha yang dilahap api, itu belum termasuk dengan luasan lahan di desa- desa lain.

Dengan kondisi yang menyulitkan tersebut, desa-desa mereka diselimuti kabut asap dan jarak pandang menurut dia hanya berkisar 20 meter saja.

Sehingga bagi Zainal perlu adanya upaya pemadaman secara cepat atas kondisi ini, selain itu mereka juga membutuhkan alat pengisap air agar bisa lebih mendekati titik api yangbsedsng berkobar untuk dipadamkan. 

Zainal menambahkan mereka juga membutuhkan masker bagi warga masyarakat karena ketebalan asap sangat tinggi apalagi bila angin bertiup, hal ini dikawatirkan menggangu kesehatan mereka.

Melihat kondisi ini, Manager Walhi Sulteng Stevandi, mengatakan bahwa Walhi Sulteng sebelumnya sudah mengingatkan Pemerintah Daerah atas bahaya kebakaran hutan beberapa hari yang lalu. 

Pada tanggal 26 Agustus 2019 lalu, disalah satu Radio Kota Palu, Walhi Sulteng telah menegaskan bahwa Sulteng adalah daerah yang tidak terbebas dari kebakaran hutan.

Mestinya ada langkah-langkah serius yang perlu dilakukan Pemerintah sebagai upaya pencegahan atas kebakaran hutan di Sulteng.

Dalam kesempatan itu Manager Kampanye Walhi Sulteng Stevandi menerangkan bahwa, saat ini Pemeritahan Jokowi sedang gencar menangani soal Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan hal tersebut akhirnya dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Karhutla.

Namun sayangnya hal tersebut tidak direspon cepat oleh Pemda Sulteng dan Kabupaten-kabupaten lainnya dengan membentuk Satgas ini, alhasil terjadi kebakaran hutan dibeberapa tempat termasuk yang terjadi di Kabupaten Touna.

“Pemerintah Daerah baik itu Provinsi dan Kabupaten lalai dan lamban dalam melihat isu kebakaran hutan di Sulteng. Kelalaian ini disebabkan karena tidak masuknya Sulteng sebagai daerah rawan kebakaran hutan dan lahan yang pernah dirilis oleh beberapa lembaga negara, salah satunya Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sehingga menimbulkan sikap acuh Pemerintah Daerah terhadap kasus kebakaran hutan”. Tutur Stevandi

Olehnya itu Walhi Sulteng melalui Stevandi menilai Pemerintah Daerah baik di tingkat Provinsi dan Kabupaten perlu membentuk satgas Karhutla serta membuat regulasi yang khusus memuat soal kebakaran hutan dan lahan. “Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, Pemerintah perlu melakukan kajian mitigasi bencana secara khusus soal kebakaran hutan di Sulteng, hal ini agar ada gambaran real ancamam kebakaran hutan di Sulteng dalam kajian Pemerintah.” Ujar Epen sapaan akrabnya.

Selain itu, Walhi Sulteng juga mendesak agar melakukan upaya respon cepat dengan mengirimkan bantuan alat damkar untuk membantu memadamkan api di Kecamatan Tojo dan Tojo Barat. (Faiz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here