Aksi Monolog personil SS Gimba Sastra Unisa berhasil memukau penonton,Sabtu (25/1/2020) malam.(ist)

PALU- Pertunjukan monolog personil Sanggar Seni (SS) Gimba Fakultas Sastra Universitas Alkhairaat Palu berhasil memukau puluhan penonton di Perpustakaan Mini Nemu Buku, Jalan Tanjung Balantak, Palu, Sabtu (25/1/2020) malam. Pertujukan yang digagas SS Gimba Sastra Unis bekerjasama dengan Nemu Buku ini dihadiri para penggiat dan penikmat seni se-Kota Palu.

Monolog bernaskahkan  ‘’Kunci Kotak’’  karya Yusef Muldiana ini dibawakan dengan apik  oleh Anisa Saskia Putri, personil SS Gimba yang juga mahasiswa semester 1 Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Unisa. Naskah yang dibawakan kurang lebih 20 menit ini menceritakan tentang suka duka seorang janda. Status janda yang selama ini kerap diidentikan dengan seorang perempuan yang miskin dan sering menjadi korban pelecehan seksual.

Dalam monolog itu, Anisa juga menekankan bagaimana seorang janda yang kerap mendapat stigma negative di tengah masyarakat. Padahal di sisi lain, janda harus bekerja keras dan mencari nafkah hingga larut malam untuk memenuhi kebutuhan hidup dan anak-anaknya.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Sastra Dra H Masamah Mufti M.Pd yang hadir langsung dalam pementasan monolog ini memuji secara khusus penampilan SS Gimba khususnya Anisa Saskia Putri. Menurut Masamah, kegiatan yang dilakukan SS Gimba bekerjasama dengan Nemu Buku ini sekaligus bertujuan untuk mensosialisasikan sanggar seni yang berada di bawah naungan Fakultas Sastra Unisa itu. ‘’Ini bagian dari sosialisasi atau memperkenalkan SS Gimba di Kota Palu. Kita ingin para penggiat seni di Kota Palu semakin eksis dan menunjukkan kreasi dan karyanya kepada masyarakat,’’tandasnya.

Pendiri Nemu Buku,Neni Muhidin pun mengaku senang bisa bekerjasama dengan Sanggar Seni Gimba dalam pentas monolog yang berlangsung sukses tersebut. Dalam kesempatan itu, Neni juga menyampaikan akan siap  bekerjasama dalam melestarikan seni budaya khususnya di Kota Palu melalui pementasan atau kegiatan seni lainnya.

‘Kunci Kontak’ ini juga menjadi materi diskusi ringan malam itu yang melibatkan sejumlah lembaga pemerhati perempuan seperti Libu Perempuan, Sikola Mombine dan Nemu Buku. Diskusi yang berlangsung sekitar satu jam ini membahas bagaimana penanangan perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual penyintas bencana khususnya di lokasi hunian sementara (huntara). Yah, kasus itu perlu mendapat perhatian serius karena bisa terjadi dimana saja dan menimpa siapa saja, termasuk orang-orang terdekat.(sam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here