Kasman Jaya Saad (ist)

TULISAN ini bukan tentang Covid 19, namun tentang kelelahan yang mendera ditengah kepungan Covid 19. Lelah karena kesibukan yang padat memang wajar terjadi, terlebih bila pekerjaan menumpuk. Tapi kawan saya selalu mengeluh lelah, capek, padahal aktivitasnya tidak terlalu banyak, bahkan lebih banyak mendekam di rumah. “Entah kenapa saya akhir-akhir ini sering merasa lelah,capek, padahal secara medis oleh dokter tidak ada masalah” begitu  keluhan kawan saya.

Tidak untuk menjawab keluhan kawan saya ini tulisan ini hadir, karena ada beberapa faktor pemicu lelah atau capek, namun hanya ingin berbagi, bahwa lelah, capek kadang lebih disebabkan karena cara kita memaknai hidup yang keliru. Keliru yang saya maksud, karena ekspektasi kita yang begitu tinggi kepada sesama manusia termasuk gaya hidup dan kebiasaan kita sehari-hari. Lupa mesyukuri nikmat Tuhan yang begitu melimpah, lantas terus mengharapkan pujian dari sesama manusia. Tiap hari kita fasih menyebut Alhamdulillah, namun tak pernah mengerti maknanya, apalagi mau menyalami substansinya, segala puji bagi Allah Swt.

Coba cermati disekeliling kita, yang begitu akrab dengan layar kecil yang bernama smartphone. Bahkan menjadikan sebagai kebutuhan vital dalam era kekikinian. Era dimana hidup yang dipenuhi teknologi, dan banyak menyebutnya era industri 4.0. Era digital begitu yang lain menyebutnya. Trasformasi benda kecil ini, bernama smartphone begitu mendunia. Kalau benda kecil ini ketinggalan di rumah, maka dunia seakan gelap, panik dan menggelepar. Keriuan pada layar kecil begitu menjebak. Dan para produsen tak henti melakukan inovasi, menambah sekuel produknya.  Casing dan screen saver di buat canggih, dengan embel-embel password dan masih puluhan aksesoris lainnya yang terus dikemas. Samsung ke Galakxy A20s, iPhone 11 ke iPhone 11 Pro Max, Vivo ke Vivo V17 Pro hingga Oppo A7  ke Oppo A9 begitu seterusnya, berlomba, bersaing, berinovasi dan memanjakan konsumennya. 

Trasformasi smartphone  sebagai instrumen paling praktis yang mewadahi  twitter, instagram, facebook dan lainnya, makin melelahkan kehidupan manusia modern. Energi dan waktu terkuras untuk menyembahnya. Tak kenal  ruang dan waktu,siang dan malam. Di  ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dan ruang lainya. Semua sibuk bercengkraman, mendekapnya, untuk memanfaatkan fungsinya menyimak breaking news, postingan, transaksi, notifikasi message, Whats App, dan lainnya.

Smartphone juga menjadi semacam server pertamanan, membangun  Community events, semasa kuliah, semasa SMA bahkan semasa SD.  Komunikasi  tumpah rua,  mengembalikan masa lalu yang penuh persahabatan dan cinta.  Smartphone seakan telah mengembalikan jati diri kehidupan modern yang selalu ingin happy, efesien dan efektif.  Kecepatan memang telah terpenuhi, namun tanpa sadar kita telah kehilangan begitu banyak  perilaku spontanitas, orisinilitas kemanusiaan, yang muncul adalah perilaku bebal dan mekanis yang justru melahirkan banyak problem baru, bahkan lebih rumit.  Postingan kebahagian belum ada jaminan mereka bahagia, kata bijak yang begitu penuh syahdu, belum tentu yang posting paham, apalagi menghayati dan mengamalkannya. Yang hadir justru perilaku hipokrit, menunggu dipuji, dikomentari.

Kelelahan begitu mendera, karena tak henti mengharap pujian dari manusia. Dan yang terjadi adalah keriuan dimedia sosial, kesibukan virtual yang membuat kita seakan berada di dunia lain.  Namun, tak juga menemukan ketentraman, kenyamanan dan kebahagiaan, yang tersisa hanya kesunyian, kelelahan, keretakan keluarga, dan berbagai problem hidup yang seakan tak kunjung ada solusinya. Stres hinggap bila tak dapat pujian, namun menjadi demikian congkak bila sesuai yang diharapkan, mendapat begitu banyak like dan pujian.

Don Mordecai, psikiater sekaligus pemimpin Kaiser Permanente, mengatakan, orang-orang yang mengalami stres, kerap merasakan lelah hampir setiap hari, “Salah satu alasan mengapa stres beriringan dengan rasa lelah adalah karena gangguan mental tersebut memengaruhi neurotransmitter yang berkaitan dengan kewaspadaan dan sistem reward di otak,” paparnya. Stres berat tidak hanya membuat manusia lelah secara mental, tetapi juga fisik. Hormon kortisol yang dapat membantu tubuh mengelola stres biasanya berada dalam tingkat tertinggi ketika di pagi hari dan di tingkat terendah saat malam hari. Jika stres, hormon kortisol akan berantakan dan tidak akan menurun saat tidur di malam hari sehingga akan menghasilkan kualitas tidur yang buruk dan berakibat pada munculnya kelelahan di pagi hari.

Dan yang pasti lelah akan terus mendera dalam hidup, bila kita tak juga mampu memaknai hidup secara baik dan benar. Berhentilah mengkalkuasi hidup dengan harapan menuai pujian dari sesama. Redam ambisi dengan mesyukuri yang ada. Dan nikmati yang telah diberikan oleh-Nya. Salam sehat, ingat selalu cuci tangan dan physical distancing bila diluar rumah.(Kasman Jaya Saad, Dosen Unisa Palu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here