Salehuddin, SP. M.Si.(IST)

PERJALANAN panjang Raden Ajeng Kartini dalam membuka sisi kelam kehidupan wanita Indonesia di zaman penjajahan Belanda, merupakan tonggak sejarah yang hingga kini masih terukir indah di setiap hati masyarakat Indonesia, khususnya kaum perempuan Indonesia.   Kartini, sebuah nama yang begitu indah yang dipenuhi dengan sederet selubung kegiatan, yang cenderung memiliki rahasia dan sifat pemalu, walaupun ia seorang yang kuat berkarakter, ia tampil percaya diri dan mengendalikan situasi.  Ia gemar melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidup, dan sangat penyayang kepada orang-orang dekatnya.           

Perjuangan RA Kartini dalam melepaskan belenggu pendidikan bagi wanita Indonesia, merupakan perjuangan yang rumit karena adanya kultur yang menjadi penghalang.  Pada masa era 1800-an hingga 1900-an, yaitu akhir abad 19 dan awal abad 20,  dimana Kartini tumbuh dan berkembang (lahir 21 April 1879 s.d 17 September 1904) merupakan  masa  dimana kaum wanita  di  tanah  Jawa  sangat  didiskriminasikan , mereka dipantangkan untuk bersekolah dan menempuh pendidikan,  dimasa itu mereka belum diizinkan untuk setara dengan pria dalam hal apa saja,  bahkan belum diizinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan masih banyak lagi bentuk diskriminasi lain yang menyulitkan kaum wanita dalam mengembangkan dirinya. 

      Dilandasi pergaulannya yang luas dengan bangsa lain, yaitu teman Belandanya,  melalui korespondensi yang teratur dengan mereka, ia menumpahkan seluruh perasaannya yang galau melihat mirisnya kehidupan kaum wanita Indonesia, khususnya di Jawa kala itu.  jiwanya memberontak melihat ketidakadilan yang dialami kaummnya.  Ia merasa iri melihat betapa wanita di Eropa, sangat tidak terikat dengan tradisi kolot seperti di Indonesia.  Wanita di seberang sana sangat berderajat, setara dengan  kaum pria, dalam berbagai hal.   Jeritan hati RA Kartini yang telah ada sejak 120 tahun lalu tersebut, sepertinya sampai sekarang masih ada di masyarakat kita.  Saat ini kita tengah hidup di era milenial, yang disuguhi dengan berbagai dinamika perkembangan teknologi digital yang kian canggih, namun di beberapa sudut negeri kita, masih saja terdengar adanya masyarakat yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya, masih ada masyarakat yang memilih drop out / tidak tuntas dalam belajar, bahkan masih ada masyarakat yang menganggap pendidikan itu tidak penting.  Kondisi ini tentunya membuat kita “ heran “ dan bertanya “ ada apa sebenarnya dengan sebagian bangsa kita ?”. 

      Masih adanya kondisi di masyarakat seperti saya sebutkan diatas, tentunya perlu kita dalami dari berbagai aspek.  Aspek pertama adalah aspek ekonomi.  Tak dipungkiri, bahwa ekonomi bagi suatu bangsa, atau dalam skop kecil keluarga, sangatlah esensial.  Masih adanya sekolah yang mempatok biaya pendidikan dengan mahal, menjadikan masyarakat tidak bergairah untuk melanjutkan anaknya bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi.  Prinsip lebih baik mencari uang daripada bersekolah lebih menjadi pilihan.  Mereka beranggapan “kami keluarga miskin, untuk makan saja susah, lantas buat apa sekolah ?” belum lagi adanya alasan jumlah anak yang banyak, yang tentunya akan menambah cost pengeluaran dalam keluarga.   Aspek kedua adalah aspek sosio kultural.  Harus diakui, bahwa dengan banyaknya suku dan beragamnya budaya masyarakat Indonesia, maka mau tak mau akan mewarnai pola hidup dan kebiasaan masyarakat.  Ada sebagian masyarakat kita yang masih menganggap pendidikan bagi perempuan nomor sekian saja, yang terpenting adalah perempuan harus paham persoalan di rumah tangga, walau tidak bersekolah.  Budaya makan tak makan asal ngumpul, juga menjadi tantangan dalam membiasakan anak untuk bersekolah ke tempat yang jauh, dimana jenjang pendidikannya lebih berkualitas.   Belum lagi adanya kebiasaan masyarakat yang merasa termarjinalkan, karena di tempat mereka tinggal, banyak kaum borjuis yang mentereng dan selalu mendewakan keberhasilan keluarganya dalam pendidikan.  Akibatnya ,  masyarakat  yang termarjinalkan ini menganggap “orang yang lebih dalam pendidikan” adalah sesuatu yang kurang bagus, dan lebih baik tidak ada sekolah/tidak bersekolah,  namun baik dalam tingkah laku.   Aspek ketiga adalah aspek politik dan keamanan.  Tak disangkal lagi, kontribusi aspek politik dan keamanan dalam mempengaruhi tumbuh kembang pendidikan di masyarakat, sangatlah besar.   Suatu daerah yang senantiasa dilanda konflik politik dan masalah gangguan keamanan, menjadikan masyarakat takut untuk beraktivitas, apalagi bersekolah.  Mereka lebih senang berkumpul bersama keluarga atau komunitasnya, atau pindah ke tempat yang dianggap lebih aman, akibatnya sekolah anak menjadi terbengkalai, dan bahkan berhenti sekolah.

      Untuk menjawab semua kondisi buruk dalam meningkatkan dinamika laju pendidikan, agar sesuai harapan dan cita-cita RA Kartini, maka kita dapat menempuh beberapa strategi, yaitu  :  1). Memperluas lapangan kerja di masyarakat.   Kita menyadari bahwa akses pekerjaan bagi masyarakat, sangat penting dalam rangka menciptakan struktur ekonomi keluarga yang tangguh.  Banyaknya masyarakat yang belum memiliki pekerjaan mapan, salah satu penyebabnya adalah masih kurangnya kemampuan masyarakat dalam membaca situasi / trend ekonomi.  Contohnya saat adanya wabah covid19, usaha pembuatan masker, pengantaran barang, kuliner, pertanian organik, penyemprotan, distribusi air bersih, pengangkutan barang di pelabuhan, merupakan pekerjan yang dapat dengan cepat menghasilkan uang.   Apalagi bila SDM mendukung, maka kejelian dalam melihat situasi dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin untuk mendulang uang, patut diperkenalkan kepada masyarakat.   2). Memperluas skema bantuan pendidikan yang memang mengarah kepada masyarakat miskin/marjinal.  Jika bantuan kepada masyarakat tepat sasaran, maka dipastikan manfaatnya pun akan dirasakan oleh masyarakat, seperti halnya beasiswa bagi anak putus sekolah atau orang dengan kondisi ekonomi lemah, yang jika diberikan dengan kuantitas yang banyak dan berkelanjutan, maka angka putus sekolah dan munculnya motivasi sekolah bagi anak akan meningkat.   3). Terus menambah kuantitas sekolah dan tenaga pendidik, agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik.  Di beberapa daerah, kondisi sekolah rusak atau kurangnya ruangan menyebabkan kemunduran motivasi orang tua untuk menyekolahkan anak mereka.  Hal ini diperparah jika kuantitas dan kualitas pendidiknya minim.  Karena bagaimanapun, seorang pendidik/guru yang banyak memiliki inovasi dan kreativitas, akan merangsang anak untuk bersekolah.    4). Meluruskan budaya yang keliru di masyarakat yang menganggap pendidikan sebagai hal biasa, atau bahkan tidak bermanfaat.  Bentuk sosialisasi dan pendekatan humanis kepada masyarakat perlu terus dilakukan, agar tradisi atau budaya tersebut tereliminir, bahkan tereduksi di masyarakat.   Perlu memberikan contoh konkret yang dapat membuka mata dan hati mereka.   5). Menciptakan rasa aman di masyarakat dari gangguan kamtibmas.  Dambaan akan adanya kondisi damai, tentram, nyaman, dan hidup teratur, akan mendorong gairah masyarakat untuk beraktivitas, termasuk semangat untuk bersekolah.  6).  Mendorong tradisi berpolitik yang  etis, santun, dan bermartabat.  Kondisi politik yang damai tidak akan menimbulkan huru hara dan gonjang-ganjing di masyarakat.  implikasinya adalah akan terwujud suasana aman dimana masyarakat dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.  Anak-anak pun akan terdorong untuk terus bersekolah.

Mapannya masyarakat, akan meningkatkan tumbuh dan berkembangnya pendidikan yang egaliter, yaitu pendidikan yang menempatkan setiap individu pada posisi yang sejajar tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, komunitas, ataupun jenis kelamin.  Mari kita rayakan hari Kartini dengan semangat memajukan pendidikan masyarakat Indonesia yang demokratis dalam rangka mencetak generasi bangsa yang beriman dan bertaqwa serta berpengetahuan dan berperilaku mandiri, pantang meneyerah, dan siap bersaing dengan bangsa lain di dunia. Semoga. (Salehuddin,Pamong Belajar / Widyaprada UPT BP PAUD dan Dikmas Sulawesi Tengah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here