Kasman Jaya Saad (ist)

PANDEMI Covid-19 menggerus sendi-sendi kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan sosial dan ekonomi. Dalam kondisi demikian, dibutuhkan kepedulian untuk saling bahu membahu atas wabah ini. Sosial distancing, tentu bukan bermakna melonggarkan ikatan sosial, namun lebih bermakna fisik, jaga jarak (physical distancing). Ikatan sosial sekarang, justru  menjadi penting ditumbuhkan. Fisik boleh berjarak, namun ikatan sosial dalam masyarakat perlu terus dihidupkan. Ini menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat ikatan sosial itu. Menghidupkan suasana kebanthinan kita, untuk saling menyapa. bahu membahu  dan makin peduli dengan saudara kita yang terkena derita-keterpurukan ekonomi, karena adanya berbagai penanganan pandemi ini berupa pembatasan sosial pada berbagai daerah.

Dengan adanya pandemi covid-19 ini kepedulian kita memang lagi diuji.  Apakah kita menjadi pribadi yang tahu diri atau pribadi yang bermental pengemis. Selalu merasa kurang, kurang, tak pernah merasa cukup, dan bahkan mengambil kesempatan untuk mengeruk keuntungan di tengah pandemi ini. Karena atas nama kewenangan yang melekat,  hak orang lain  dikebiri. Dan tak sedikit dari kita yang tak malu ikut antri, rebutan sembako yang seharusnya untuk mereka yang tidak mampu, untuk saudara kita (miskin) yang sangat memerlukannya.

Mari menyimak cerita postingan WhatSapp seorang kawan, semoga menjadi kontemplasi bagi kita di tengah pandemi sekarang ini, apakah kita masih punya nurani.  Diceritakan, seorang kawan yang tinggal di Australia tentang pengalamannya. Suatu sore, kawan itu mampir ke toko roti dan membeli sebatang roti kismis dan minta kepada si penjaga toko untuk dipotongkan, sehingga nanti di rumah tinggal dimakan. Selesai dipotong dan dibungkus rapi, lalu diserahkannya kepada kawan itu. Langsung kawan itu pun berikan uang lembaran 10 dollar. Tapi ditolak dengan senyum manis, sambil berucap: ”It’s free nothing to pay.” Gratis, tidak berbayar. “Are you sure ?” betul, yakin ? kata kawan itu.

Gadis remaja yang tugas jualan menjelaskan bahwa kalau sudah ditutup, roti tidak boleh lagi dijual. Boleh diberikan kepada siapa yang mau atau diantarkan ke Second Hand shop untuk orang yang membutuhkan. Agak tercengang juga kawan itu dengar penjelasannya. Belum selesai ngobrol dengan si mbak, tiba-tiba ada suami istri, yang juga mau belanja roti. Rupanya mereka tanpa di sadari kawan itu, sudah mendengar percakapan mereka. Si pria adalah orang Australia, sedangkan istrinya adalah tipe orang Asia. Si wanita juga minta roti di toko itu, tapi di cegah oleh suaminya, sambil berkata: “No darling, please. We have enough money to buy. Why do we have to pick up a free one? Let’s another people who need it more than us take it.” Jangan sayang, tolong. Kita punya cukup uang untuk membeli. Mengapa kita harus mengambil yang gratis? Ayo, masih ada orang lain yang membutuhkannya lebih daripada kita.  Kawan itu selalu merenungkan kata-kata si Suami kepada istrinya “We have enough money to buy, why do we have to pick up a free one.”

Kata-kata ini benar. Kalau semua orang yang punyai duit, ikut antri dan dapatkan roti gratis, yang biasanya diantarkan ke Second Hand Shop untuk dibagi bagikan gratis, berarti orang yang sungguh-sungguh membutuhkan tidak bakalan kebagian lagi roti gratis. Pelajaran hidup ini tidak mungkin dilupakan kawan itu. Kalau kita sanggup beli. Jangan ambil yang gratis. Biarlah orang lain yang lebih membutuhkan mendapatkannya. Sungguh sebuah kepedulian akan sesama yang diterapkan dengan kesungguhan hati. Kini kawan itu baru tahu, kenapa kalau di club ada kopi gratis, tapi jarang ada yang ambil. Mereka lebih suka membeli. Bukan karena gengsi-gensian. Tetapi terlebih karena rasa peduli mereka pada orang lain, yang mungkin lebih membutuhkan. Cerita kawan di negeri Kangguru itu menarik dicermati, dicamkan. Kita yang hidup di negeri Pancasila, yang lagi didera pandemi Covid-19 ini, harusnya lebih peduli, dan menjadi pribadi yang lebih yang tahu diri. Kalau mampu, ikutlah membantu, meringankan saudara-saudara kita yang lagi mengalami penderitaan akibat pandemi ini. Memang secara medis mereka sehat karena tidak terpapar virus corona, tetapi secara sosial banyak saudara kita  yang terpapar, karena kebijakan penanganan pandemi ini banyak menimbulkan problem sosial dan ekonomi.  Tuhan sudah memberikan begitu banyak kemudahan, berkah dalam hidup kita, jangan lagi mengambil bagian berkah yang diperuntukkan bagi orang lain yang tidak mampu. Jangan bermental peminta, kufur nikmat. Dan bukankah tangan diatas lebih mulia dibandingkan tangan dibawah. Teruslah bersyukur atas begitu banyak nikmat Tuhan yang telah terberikan.  Lawan Covid-19  dengan semangat berbagi. Selamat berpuasa semoga berkah.(Dr H Kasman Jaya Saad,M.Si, Dosen Universitas Alkhairaat Palu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here