Dr.Ratnawati,M.P ,dosen pertanian Unisa saat menyerahkan Starter Trichoderma kepada ibu Ni Nyoma Ana Andari, staf Dinas Perkebunan Sulawesi Tengah di Laboratorium Fak.Pertanian Unisa Palu (Selasa, 16/6/2020) kemarin.(ist)

Palu,mediasulawesi.com-Prestasi membanggakan kembali diraih dosen Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu. Yah, adalah Dr Ir Ratnawati,M.P, Dosen Fakultas Pertanian yang berhasil menemukan mikroorganisme antagonis (Trichoderma asperellum) yang berfungsi sebagai pengendali hayati dan fertilizer atau pupuk hayati.Temuan tersebut kini dikembangkan di laboratorium Fakultas Pertanian Unisa.

Kepada media ini, Rabu (17/6/2020) pagi, Ratnawati yang juga konsen sebagai pithopathologist ini menuturkan kalau Trichoderma asperellum (TR3) spesifik lokasi ditemukan pertama kali saat melakukan penelitian di lahan kebun bawang merah Desa Bolupontu, Kecamatan Biromaru,Kabupaten Sigi beberapa waktu lalu.’’Saya temukan ketika melakukan penelitian beberapa waktu lalu. Kemudian dikembangkan di laboratorium kampus.Alhamdulillah sudah membuahkan hasil,’’ujarnya.

Temuan Alumnus S3 Universitas Universitas Hasanuddin Jurusan Ilmu Penyakit Tumbuhan (Pitopatologi) ini mendapat respon positif dan mulai dilirik berbagai pihak. Salah satunya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah yang telah menggunakan Trichoderma tersebut termasuk pula para petani di Kabupaten Sigi. Meski dalam jumlah kecil, namun setidaknya ia mengaku bangga karena temuannya bisa digunakan dan bermanfaat bagi orang lain.Bahkan dua mahasiswa pertanian Universitas Alkhairaat Palu pun berhasil menjadi sarjana dari penelitian penggunaan Trichoderma tersebut.

Selasa (16/6/2020) kemarin, giliran Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Tengah yang melirik temuan dosen yang juga anggota Perhimpunan Fitopatalogi Indonesia (PFI) itu. Sejumlah pegawai dari Dinas Perkebunan Provinsi Sulteng tersebut menyambangi laboratorium Fakultas Pertanian Unisa dan mengambil Trichoderma untuk dijadikan starter di instansi tersebut. ‘’Meski dengan fasilitas sederhana kita bisa berbuat lebih untuk kepentingan orang banyak. Terlebih petani. Sebagai garda terdepan dalam kehidupan ekonomi bangsa ini dengan memperbanyak Trichoderma ini, Unisa sudah bisa dikatakan Go Publik. Kita sudah punya lisensinya dan harus ada izin jika mereka ingin menggunakan produk kita,’’terangnya dengan penuh optimis.

Ratnawati menambahkan dalam waktu dekat selain di Biromaru, petani di Desa Tulo juga sudah merespon dengan mengajak beberapa kelompok tani untuk memanfaatkan Tricoderma di lahan mereka. Respon ini diterima setelah ia melakukan penyuluhan dengan masyarakat petani di desa tersebut,Minggu (7/6/2020) lalu. (sam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here