Salehuddin, SP. M.Si.(IST)

MARAKNYA pertumbuhan satuan PAUD di tanah air, telah memberikan arti tersendiri dalam kancah dinamika pendidikan kita.  Setiap pelosok, baik di kota maupun di desa, keberadan PAUD Formal (Taman Kanak-Kanak (TK), dan Raudhatul Athfal (RA) ), PAUD nonformal (Kelompok Bermain (KB), Bustanul Athfal (BA), Taman Penitipan Anak (TPA), Satuan PAUD Sejenis (SPS seperti TPQ, sekolah minggu, pasraman, BKB, TAPAS, SPAS, Bina Anaprasa, PAK, dan BIA dan pos PAUD), dan PAUD Informal (PAUD berbasis keluarga (parenting di rumah) ).  PAUD merupakan jenis pendidikan yang memberikan pengasuhan, perawatan, dan pelayanan kepada anak usia sejak lahir hingga 6 tahun.  PAUD dapat pula diarikan sebagai suatu upaya pembinaan, yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan, untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki sekolah dasar dan kehidupan selanjutnya.  Pesatnya pertumbuhan PAUD bukannya tanpa alasan, hal ini terjadi karena semakin tingginya kesadaran dan animo masyarakat dalam melihat PAUD sebagai pendidikan awal bagi anak.  Anak-anak sejak usia dini, perlu dibekali dengan berbagai hal yang dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangannya, guna persiapan menuju masa depan yang gemilang. 

Saat ini pertumbuhan satuan PAUD telah merata, di setiap desa terdapat satu bahkan lebih satuan PAUD.  Bahkan untuk menunjang operasionalisasi satuan PAUD, pemerintah desa melalui dana desa, telah mengalokasikan secara rasional dan proporsional, sehingga tidak lagi kita mendengar adanya insentif guru TK/KB yang minim dan memiriskan.  Desa memiliki kewenangan yang dijamin undang-undang untuk menyusun berbagai rencana pembangunan desa yang dijabarkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RPJMDes-RKPDes) sebagaimana diatur dalam UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dan PP No. 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, dimana dalam aturan tersebut mencakup pembangunan SDM desa melalui penguatan PAUD.  Ketentuan pembangunan desa dipertegas lagi dalam Permendesa nomor 11 tahun 2019 yang lebih rinci dijelaskan apa saja yang berkaitan dengan Anak Usia Dini. yang menjadi prioritas dalam penganggaran dan perencanaan desa yaitu : 1) Taman Bacaan Masyarakat; 2) Bangunan PAUD bagi Desa yang belum ada gedung PAUD; 3) Pengembangan bangunan/rehabilitasi gedung PAUD untuk PAUD HI; 4) Buku dan peralatan belajar PAUD lainnya; 5) Wahana permainan anak di PAUD; 6) Taman Belajar Keagamaan; 7) Sarana dan prasarana bermain dan kreatifitas anak; 8) Pembangunan atau renovasi sarana olahraga desa; 9) Bangunan perpustakaan desa; 10) Buku/bahan bacaan; 11) Balai pelatihan/kegiatan belajar masyarakat; 12) Gedung sanggar seni/ruang ekonomi kreatif; 13) Film dokumenter; 14) Peralatan kesenian dan kebudayaan; 15) Pembuatan galeri atau museum Desa; 16) Pengadaan media komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) Terkait hak anak, gizi dan kesehatan ibu dan anak serta isu anak lain, keluarga berencana dan kesehatan reproduksi di Desa; 17) Sarana dan prasarana perjalanan anak ke dan dari sekolah yang aman bagi anak; dan 18) Sarana prasarana pendidikan dan kebudayaan lainnya yang sesuai dengan kewenangan desa dan diputuskan dalam musyawarah desa.

Adanya regulasi diatas, akan sangat membantu satuan PAUD untuk terus mengembangkan inovasinya, sehingga makin maju.  Kemajuan yang akan diraih oleh sebuah satuan PAUD, tentunya akan melalui perjalanan panjang dan perjuangan.  Untuk itu, satuan PAUD diharapkan senantiasa meningkatkan mutu.  Satuan PAUD (apakah TK/KB/TPA/RA dan lainnya) merupakan salah satu lembaga untuk membentuk peserta didik sejak awal, guna menjadi manusia yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan, sebagai bekal mereka dalam menghadapi masa depan yang kian kompetitif.  Sejalan dengan perkembangan iptek dan semakin ketatnya kompetisi di era global, melahirkan konsekuensi bahwa satuan PAUD wajib meningkatkan mutu, karena tentunya dengan adanya satuan PAUD yang bermutu, menjadi dambaan kita semua.  Mutu mengandung makna derajat atau tingkat keunggulan suatu kinerja atau upaya baik yang tampak maupun yang tidak taampak, dan mutu satuan PAUD dimaknai sebagai layanan prima yang diberikan satuan PAUD kepada peserta didiknya sesuai standar nasional pendidikan. 

Mutu satuan PAUD meliputi tiga hal, yaitu  :  1). Mutu input, yaitu segala hal yang diperlukan untuk berlangsungnya pembelajaran, seperti guru/pendidik, peserta didik, bahan ajar, dan sarana serta prasarana;   2). Mutu proses, yaitu segala kegiatan proses pembelajaran dan perubahan tingkah laku peserta didik;   3). Mutu output, yaitu prestasi, baik prestasi yang bersifat akademik maupun non akademik.  Membangun mutu satuan PAUD penting untuk dimulai dari mutu inputnya, agar mutu proses dan outpunya juga bagus.  Hasil dari proses peningkatan mutu diharapkan bahwa mutu menjadi sebuah budaya.  Budaya mutu adalah nilai dan keyakinan mutu dalam suatu masyarakat, yang digunakan sebagai sumber penggalangan konformisme perilaku yang bermartabat tinggi bagi masyarakat pendukungnya.  Satuan PAUD mulai sekarang semestinya telah merintis model satuan PAUD yang berbudaya mutu, agar tidak tergerus dengan globalisasi pendidikan yang semakin tajam.

Model satuan PAUD yang berbudaya mutu dimulai dari perencanaan, yaitu dengan menentukan target mutu dan mensosialisasikannya kepada warga satuan PAUD, utamanya guru dan orang tua peserta didik.  Selanjutnya dilakukan pengorganisasian dengan membentuk struktur tenaga penjaminan mutu, serta lingkup tupoksinya disertai pendelegasian wewenang.  Setelah pengorganisasian terwujud, selanjutnya adalah memberikan pelatihan bagi pendidik/guru serta mendampingi proses yang dilakukan oleh guru, lalu mendiskusikan berbagai hal yang menjadi temuan selama proses berlangsung.  Kemudian dilakukan monitoring dan evaluasi berupa evaluasi program sekolah, dengan evaluasi ini, akan memberikan dampak dengan diketahuinya, apakah telah terjadi  berbagai inovasi dalam proses pembelajaran yang  telah dilakukan, disertai adanya pengembangan ataupun perubahan perilaku/karakter seperti religiusitas, disiplin, peduli lingkungan, penghormatan dan penghargaan, serta tumbuhnya prestasi individual dan kelompok.

Satuan PAUD yang menerapkan budaya mutu secara ketat, akan mampu bersaing dengan satuan PAUD yang telah lebih maju.  Meningkatnya budaya mutu, berarti meningkatnya pula kesadaran seluruh pihak yag terlibat dalam satuan PAUD.  Kiya yakin dan percaya, bahwa PAUD di Indonesia akan dapat menyamai seluruh proses seperti yang dilakukan oleh PAUD di luar negeri, dengan satu kata kunci “budayakan mutu secara ketat”, semoga.(H,Salehuddin,S.P,M.Si,Pamong Belajar / Widyaprada UPT BP PAUD dan Dikmas Sulawesi Tengah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here