Dr H Kasman Jaya Saad (ist)

KEMARIN (27/7/2020) saya menyempatkan diri mengikuti Webinar tentang Sinergisitas Pengelolaan Sampah yang dilaksanakan Prodi Teknik Lingkungan Universitas Bosowa Makassar, dengan salah satu pemateri dari Kitakyushu University, Dr.Indriyani Rachman. Menarik, karena beliau menceritakan dengan slide gambar bagaimana kota Kitakyushu yang dulunya begitu pengap, penuh polusi dan sampah, kota terpolutif menjadi kota nir sampah, menjadi kota bersih, bebas polusi dan juga tanpa emisi. Untuk merubahnya menurut Dr.Indriyani memang dibutuhkan sinergisitas, namun yang paling penting adalah bagaimana peran masyarakat. Peran pendidikan lingkungan menjadi sangat strategis untuk menyadarkan masyarakat bagaimana menata lingkungan itu lebih baik, termasuk penanganan sampah dan memang perlu waktu serta komitmen yang kuat dari pemerintah.

Dan dalam tulisan ini saya tidak membahas lebih lanjut tentang kota Kitakyushu sebagai eco-town, namun mencoba lebih menjabarkan tentang pendidikan lingkungan.  Pendidikan adalah kesempatan terbaik kita untuk mengenalkan dan mengakarkan nilai dan perilaku yang dikandung dalam keberlanjutan dan etika lingkungan. Seperti telah diketahui banyak orang, bahwa dibutuhkan sebuah pendidikan yang transformatif, pendidikan yang membantu menuju perubahan yang fundamental yang dituntut oleh tantangan dari keberlanjutan. Mempercepat kemajuan menuju keberlanjutan bergantung pada menghidupkan kembali hubungan yang penuh kepedulian antara manusia dan alam/lingkungan, untuk kemudian mempermudah eksplorasi kreatif bentuk-bentuk perilaku yang lebih bertanggungjawab, baik secara lingkungan maupun sosial. Pendidikan memungkinkan kita sebagai individu dan komunitas untuk memahami diri kita sendiri dan orang lain, dan hubungan kita dengan alam dan lingkungan sosial yang lebih luas. Pemahaman ini berlaku sebagai dasar yang kokoh bagi untuk menghormati dunia sekitar kita dan manusia yang yang ada di dalamnya.

Dan pendidikan lingkungan, bila dilakukan dengan cara yang tepat akan membekali peserta didik dan bahkan masyarakat dengan strategi pengurangan kerawanan dan kemampuan mengelolah lingkungan dengan baik dan bertanggung jawab. Penanggulangan  masalah  lingkungan  harus  melalui  pemecahan  yang menekankan prinsip keberlanjutan (sustainable) yaitu dengan melakukan efisiensi penggunaan  sumber  daya  alam  dan  menerapkan  prinsip  etika  lingkungan.  Hidup selaras   dengan   alam   hanya   akan   dicapai   jika  setiap   orang   memahami   prinsip keberlanjutan dan melaksanakan etika lingkungan.

 Itu sebab pendidikan lingkungan dalam penjabarannya tidak dilaksanakan sekedar hafalan atau formalitas perlombaan, seperti banyak kita saksikan sekarang,  tetapi harus terintegrasi dalam keyakinan peserta didik dan peserta didik berperan aktif dalam  proses tersebut. Pembelajaran selain disesuaikan dengan umur dan karakter peserta didik, juga disesuaikan dengan dunia nyata yang dihadapi  sehari-hari, harus kontekstual. Setiap sekolah  memiliki  lingkungan  yang berbeda sehingga akan semakin menarik karena keragamannya. Walaupun obyek kajiannya berbeda namun tujuan pembelajarannya tetap sama, bagaimana peserta didik berkembang sebagai manusia yang utuh, menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab, menemukan kecintaan pada lingkungan hidup, menyadari kekuatan dan potensi diri mereka untuk bukan hanya menolong dirinya, namun juga menolong orang lain.

Obyek kajian dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti observasi,  praktek  lapangan,  praktek  laboratorium, magang, kegiatan petualangan dan diskusi atau debat masalah lingkungan yang dihadapi.  Dan tempat kajian bervariasi, seperti lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal, lingkungan perkotaan, pasar, terminal, selokan, sungai, sawah, taman kota, lapangan udara, danau, instalasi pengolahan air minum, pengolahan sampah, tempat  pembuangan  sampah  dan  lingkungan  lain  di sekitar atau dekat sekolah.  Masalah  lingkungan yang dapat diangkat  jadi topik pembelajaranpun sangat   beragam   mulai   dari   masalah   sampah   rumah   tangga,   sampah   industri, penggunaan deterjen, pestisida, pencemaran tanah, air, udara, kekurangan air, banjir, penurunan air tanah, penggundulan hutan, bahkan illegal loging dan illegal fishing.

Pengetahuan  dan pengalaman peserta didik peroleh diharapkan dapat ditularkan kepada orang lain seperti kepada orangtuanya, saudara-saudaranya,    teman   bermain   di   lingkungan   tempat   tinggalnya.   Dengan demikian akan terbangun masyarakat yang menerapkan prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan. Keberlanjutan berkenaan dengan paradigma, dan membentuk praktek-praktek sosial dan personal yang membawa pada: 1. Individu-individu yang beretika, berdaya dan utuh secara personal 2. Komunitas yang dibangun berdasar perjanjian kolaboratif, toleransi dan kesetaraan 3. Sistem sosial dan lembaga yang partisipatori, transparan dan adil, serta 4. Praktek-praktek lingkungan yang menghargai dan menjaga keragaman dan proses ekologis penyokong kehidupan.

Dengan pengetahuan keberlanjutan seperti  itu akan memberi perubahan yang baik bagi diri kita sendiri, anak-anak dan cucu-cucu kita, dan  kita harus melakukannya secara bersama dengan cara yang bertanggung jawab. Untuk melakukannya, kita harus terus-menerus belajar  tentang keterbatasan/daya dukung, hubungan dengan alam/lingkungan dengan segala perubahannya.  Dan pendidikan lingkungan adalah suatu ikhtiar yang luas, berlangsung seumur hidup, dan menantang individu, lembaga dan masyarakat untuk memandang hari esok sebagai hari milik kita semua, atau ini tidak akan menjadi milik siapapun. Semoga dimaknai.(Dr H Kasman Jaya Saad,Dosen Unisa Palu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here