Media Sulawesi

Loading

Dampak Psikososial Bencana Alam: Pentingnya Pemulihan Trauma Korban

Dampak Psikososial Bencana Alam: Pentingnya Pemulihan Trauma Korban

Ketika bencana alam melanda, fokus perhatian sering kali tertuju pada kerugian fisik: korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan kebutuhan logistik dasar. Namun, di balik puing-puing, terdapat kerusakan yang jauh lebih dalam dan tak terlihat, yaitu Dampak Psikososial yang dialami oleh para penyintas. Bencana seperti gempa bumi, banjir, atau erupsi gunung api tidak hanya merenggut harta benda dan orang terkasih, tetapi juga merusak rasa aman, memicu trauma, kecemasan, dan bahkan depresi jangka panjang. Peristiwa tanah longsor di Pacitan pada 12 Oktober 2025, yang memaksa 150 keluarga mengungsi, kembali menunjukkan urgensi penanganan aspek psikologis ini agar korban dapat kembali menjalani hidup secara normal.

Penanganan Dampak Psikososial adalah elemen penting dalam fase tanggap darurat dan pemulihan. Segera setelah bencana, banyak korban mengalami Acute Stress Disorder (ASD) atau gangguan stres akut, yang dapat berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) jika tidak ditangani dengan tepat. Gejala ini terutama terlihat pada anak-anak, yang mungkin menunjukkan regresi perilaku, mimpi buruk, atau penolakan untuk berpisah dari orang tua. Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, bekerja sama dengan Pusat Krisis Kementerian Kesehatan, segera mengerahkan 30 relawan psikolog dan pekerja sosial ke lokasi pengungsian di Pacitan mulai 14 Oktober 2025. Tim ini bertugas memberikan dukungan awal melalui sesi konseling individu dan kelompok, serta aktivitas bermain terapetik bagi anak-anak.

Strategi pemulihan trauma tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada penguatan komunitas. Program Dukungan Psikososial (PSP) yang dijalankan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menitikberatkan pada pembentukan kembali struktur sosial dan dukungan sebaya. Di tempat pengungsian, kegiatan komunal, seperti ibadah bersama, makan bersama, dan pembentukan kelompok diskusi, terbukti efektif mengurangi isolasi dan meningkatkan rasa kebersamaan. Selain itu, sinergi lintas sektor memastikan bahwa layanan psikologis tersedia secara berkelanjutan. Kepolisian Resor (Polres) setempat, melalui Satuan Pembinaan Masyarakat (Satbinmas), turut berperan dengan menyelenggarakan kegiatan kemanusiaan yang berorientasi pada hiburan dan pemulihan semangat, seperti pentas seni sederhana.

Langkah jangka panjang dalam memitigasi Dampak Psikososial adalah integrasi layanan kesehatan mental ke dalam sistem kesehatan primer di daerah terdampak. Hal ini bertujuan agar penyintas yang menunjukkan gejala PTSD yang persisten dapat mengakses terapi dan pengobatan tanpa stigma, bahkan setelah masa tanggap darurat berakhir. Dengan mengakui dan secara aktif menangani trauma yang tidak terlihat ini, Indonesia tidak hanya membangun kembali infrastruktur fisik, tetapi juga membangun kembali ketahanan mental dan emosional masyarakat, memastikan bahwa mereka tidak hanya selamat, tetapi juga mampu pulih dan berkembang kembali.