Mencari Rempah, Menanam Tirani: Awal Mula Petualangan Cornelis de Houtman
Petualangan Cornelis de Houtman pada tahun 1595 menandai babak baru yang kelam dalam sejarah Nusantara. Dipimpin oleh de Houtman, empat kapal Belanda berlayar dari Amsterdam, didanai oleh para saudagar kaya, dengan misi tunggal: memutus monopoli perdagangan rempah yang selama ini dipegang oleh Portugal. Rempah adalah emas baru Eropa.
Ekspedisi ini didorong oleh kebutuhan mendesak Eropa akan rempah-rempah yang mahal dan langka, seperti lada, pala, dan cengkeh. Setelah Belanda memisahkan diri dari Spanyol, akses mereka terhadap pasar rempah Lisbon terputus. Maka, penjelajahan samudra langsung ke sumbernya menjadi keharusan ekonomi dan politik.
Cornelis de Houtman, meskipun bukan seorang pelaut ulung, ditunjuk memimpin armada. Perjalanan mereka penuh penderitaan dan kegagalan. Banyak awak kapal yang tewas karena penyakit dan kekurangan gizi. Ekspedisi ini menunjukkan betapa besar risiko yang harus diambil demi menemukan “Kepulauan Rempah-Rempah” di Timur Jauh.
Pada Juni 1596, armada de Houtman akhirnya mencapai Banten, pelabuhan lada utama di Jawa Barat. Awalnya, mereka diterima dengan baik oleh Sultan Banten, yang melihat peluang dagang baru. Namun, sikap arogan dan kejam de Houtman dengan cepat merusak hubungan baik tersebut.
De Houtman terkenal memiliki perangai kasar dan sering kali bersikap sewenang-wenang, baik terhadap awaknya sendiri maupun penguasa lokal. Di Banten, ia terlibat dalam konflik dan bahkan sempat ditangkap. Ia dipaksa membayar denda dan akhirnya diusir oleh otoritas kesultanan setempat.
Meskipun Petualangan Cornelis de Houtman di Banten berakhir dengan kegagalan dagang dan kerugian besar, ia berhasil membuktikan satu hal: Nusantara bisa dicapai melalui jalur laut. Ini adalah sebuah kemenangan navigasi yang membuka gerbang bagi ekspedisi Belanda berikutnya.
Keberhasilan parsial ini memicu gelombang pelayaran lain dari Belanda, melahirkan kongsi dagang yang kelak dikenal sebagai VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Kedatangan de Houtman, meski singkat, menjadi bibit yang menanam tirani dan kolonialisme selama tiga setengah abad.
Misi Cornelis de Houtman dari mencari rempah bergeser menjadi menancapkan kuku dominasi. Jejak kakinya di Banten menjadi simbol awal dari masa penjajahan yang panjang. Kisahnya adalah peringatan tentang bagaimana ambisi dagang dapat berubah menjadi alat penindasan yang sistematis.


