Media Sulawesi

Loading

Mengapa Otak Cerdas Kurang Laku Dibanding Drama Air Mata di TV Kita?

Mengapa Otak Cerdas Kurang Laku Dibanding Drama Air Mata di TV Kita?

Fenomena di televisi nasional menunjukkan bahwa konten yang merangsang Otak Cerdas sering kalah populer dibandingkan drama yang menguras emosi. Mengapa tayangan mendidik dan informatif sulit bersaing? Jawabannya terletak pada target pasar dan mekanisme bisnis TV itu sendiri. Mayoritas pemirsa mencari pelarian instan dan hiburan ringan, bukan tantangan berpikir yang serius.

Pengejaran rating yang didorong oleh kepentingan iklan menjadi faktor penentu utama. Tayangan yang mudah dicerna, penuh konflik, dan berulang cenderung mendapatkan jumlah penonton yang besar. Produser dan stasiun TV memilih untuk mengikuti pola ini. Sayangnya, ini menciptakan lingkungan di mana konten yang membutuhkan fokus tinggi dan mengasah Otak Cerdas dianggap berisiko secara finansial.

Konten yang berkualitas dan mendalam seringkali memerlukan biaya produksi yang lebih tinggi dan membutuhkan waktu adaptasi yang lebih lama bagi pemirsa. Sementara itu, drama air mata dengan formula yang sama sudah terbukti sukses. Pemirsa telah terbiasa dengan kenyamanan menonton tanpa perlu berpikir keras. Inilah tantangan serius bagi inisiatif mempromosikan Otak Cerdas di layar kaca.

Peran TV sebagai media edukasi perlahan terkikis, digantikan oleh peran sebagai pabrik emosi. Program yang dirancang untuk menginspirasi dan mengembangkan Otak Cerdas penonton sulit mendapatkan slot tayang utama. Jika ada, mereka sering diposisikan pada waktu yang kurang strategis, menunjukkan bahwa profitabilitas telah mengalahkan tanggung jawab intelektual media.

Ironi ini mencerminkan selera konsumsi informasi masyarakat yang lebih memilih sensasi daripada substansi. Masyarakat perlu didorong untuk menuntut tayangan yang lebih baik. Konsumsi pasif drama berlebihan tanpa diimbangi tontonan yang merangsang Otak Cerdas akan berdampak negatif pada daya nalar dan literasi media jangka panjang.

Solusinya terletak pada perubahan ekosistem. Stasiun TV harus didorong melalui regulasi atau insentif untuk mengalokasikan slot utama bagi konten yang mengembangkan Otak Cerdas. Pendidik dan komunitas juga harus berperan aktif merekomendasikan tontonan berkualitas. Kita harus mengubah persepsi bahwa hiburan cerdas tidak bisa mendulang rating tinggi.